Rabu, 29 Desember 2010

Perjuangan Rakyat Maluku Menentang Portugis


Dalam abad-abad lampau Maluku terkenal di dunia internasional sebagai “pulau rempah-rempah”. Sejarah Maluku berhubungan erat dengan hasil cengkeh dan pala, bahan-bahan peradangan internasional ini membawa Maluku ke dalam pergaulan antara nusantara dan antar asia.
Di eropa pada aad pertengahan sangat diperlukan akan rempah-rempah dan lain-lain barang dari asia. Akibatnya pedagang- pedagang dan pelaut-pelaut mulai mencari jalan ke Asia. Mereka ingin menemukan pulau-pulau rempah. Maka tibalah orang Portugis di Maluku pada tahun 1512, kemudian menyusul orang-orang  Spanyol tahun 1521, orang Belanda tahun 1599 dan orang Inggris tahun 1605.
Bangsa-bangsa eropa iin ingin menguasai peradangan cengkeh dan pala bahkan gudang rempah-rempah itu sendiri yaitu daerah Maluku. Akhirnya timbul peperangan antara mereka dengan rakyat Maluku dan antara mereka sendiri. Pertumpahan darah dan kesengsaraan diderita rakyat. Di dalam perebutan kekuasaan itu akhirnya Belanda keluar sebagai pemenang dan berhasillah VOC menguasai Maluku dan menjalankan politik monopoli rempah-remah. Tiga ratus lima puluh tahun lamanya Belanda berhasil menguasai dan menjajah kepulauan Maluku.
Monopoli Belanda menghancurkan kehidupan rakyat yang sebelumya kaya raya akan pala dan cengkeh. Peperangan-peperangan untuk memerdekakan rakyat dari penjajah membawa bencana bagi rakyat sendiri. Sultan Ternate dan Tidore serta pada raja patih kehilangan kedaulatannya dan tunduk pada pemerintahan VOC, kemudian pemerintahan Hindia Belanda. Sistem pemerintahan barat membawa perubahan di dalam struktur organisasi pemerintahan secara adat.
Dengan masuknya orang Portugis ke Maluku maka para pendiri roma katolik mulai menyiarkan agama kristen. Berabad-abad lamanya rakyat Indonesia terlihat dalam peperangan melawan Portugis, Belanda dan Inggris untuk memerdekakan diri dari kekuasaan asing. Rakyat Maluku juga tidak ketinggalan, bahkan dari pertengahan abad ke 16 rakyat Ternate, Tidore, Ambon terlihat dalam peperangan melawan Portugis di dalam abad ke 17 dan ke 18 rakyat berperang terus menerus untuk mengusir penjajah Belanda (VOC). Akan tetapi pengorbanan tersebut adalah  berhasil.

I Latar Belakang Kedatangan Bangsa Eropa
Letak geografis Indonesia yang didukung oleh iklim tropis telah memungkinkan datangnya para pedagang dari eropa dan tiongkok. Setiap setengah tahun angin berhembus arahnya 180 derajat sehingga mempermudah pelayaran dalam perjalanan ke Indonesia dan kembali kenegaranya.
Rempah-rempah hasil Maluku pada dan cengkeh merupakan petunjuk untuk mengetahui bilamana Maluku mengadakan hubungan dengan dunia luar. Sebab menurut pada ahli tumbuh-tumbuhan, tanah asal rempah-rempah adalah Maluku terutama Maluku Tengah dengan palanya dan Maluku utara dengan cengkehnya.
Pada abad pertengahan  di Eropa sangat diperlukan akan rempah-rempah dan lain-lain barang dari Asia. Akibatnya banyak bangsa Portugis dan Eropa lainnya datang ke Maluku yang kaya akan hasil rempah-rempahnya.
Abad XV sampai dengan abad XIX adalah masa-masa jayanya imprealisme di dunia yang dipelopori Portugal, Spanyol, Inggris dan Belanda. Bangsa eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasai bangsa-bangsa lainnya secara politik maupun ekonomi ada tiga teori yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini yakni :
Kelompok teori yang menekankan idealisme dan keinginannya untuk menyebarkan ajaran-ajaran Tuhan untuk menciptakan dunia yang lebih baik lagi.
1.      Kelompok teori yang menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan untk kebebasan pribadi maupun kelompok masyarakat dan negaranya.
2.      Kelompok teori yang menekankan pada keserakahan manusia yang selalu berusaha mencari tambahan kekayaan yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi.
Ketiga teori jika dirumuskan yaitu disebut dengan teori Gold, Gospel dan Glory.
 Selain sebab tersebut diatas terdapat pula sebab lain yaitu di nusantara karena disebabkan oleh terjadinya perang salib dan kota konstantinopel yang mengakibatkan beberapa hal yaitu terputusnya hubungan dengan eropa dengan dunia timur sehingga eropa kekurangan rempah-rempah dan muncul pusat-pusat perdagangan di eropa seperti di Geneva dan Venesia.
2. Keadaan Maluku Dalam Abad Ke XV
Jauh sebelum masuknya pengaruh agama islam pada pertengahan abad XV dan masuknya pengaruh bangsa eropa pada pertengahan abad ke XVI, dimaluku sudah ada kesatuan masyarakat sosial ya ng teratur yang kemudian berkembang menjadi kesatuan-kesatuan politis yang berkuasa. Di daerah Maluku Utara kesatuan – kesatuan politis itu terkenal sebagai “Boldan-Boldan” dan dikepalai oleh seorang pemimpin tertinggi yang disebut “ Kolano” pada kolano disebut juga dengan gelar “Maloko”. Dalam perkembangannya muncul 4 buah Boldan. Didaerah Maluku Tengah kesatuan-kesatuan Politis terkenal sebagai “Republik Desa” yang dikenal dengan nama “negeri”. Negeri-negari ini dikepalai oleh seorang raja dengan gelar “Upu Latu” “Upu patih” atau orang kaya. Negeri-negeri ini juga mempunyai batas-batas petuanan yang tertentu pula. Di daerah Maluku Tenggara khususnya di kepulauan kel, kesatuan-kesatuan politis itu juga adalah “Negeri” yang disebut dalam bahasa daerah “Ohoriatun” di kepalai oleh seorang raja atau “Rat”, “orang kaya” atau “Kepala Soa”. Masuknya agama islam di Maluku Utara dan sejak mundurnya kekuasaan Majapahit di Jawa, muncullah kerajaan-kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailili. Istilah “Kolano” diubah menjadi “Sultan” (J.A Pattikayhatu, 1993 : 97 ).
Sejak abad ke XV kerajaan-kerajaan di di Maluku Utara ini mulai mengadakan perluasan kekuasaan. Dari keempat kerajaan itu, yang sma dapat dianggap yang mula-mula memegang peranan-peranan, belum dapat dipastikan oleh sumber-sumber sejarah yang ada. Kesatuan-kesatuan politik, di daerah Maluku Tengah sejak abad XV juga mengalami perkembangan. Pusat-pusat perdagangan dan politik seperti pulau Ambon, Banda, Buruh dan Seram jauh sebelum abad ini sudah berhubungan dengan kerajaan-kerajaan pulau Jawa, terutama pada zaman kerajaan Majapahit. Kemungkinan besar daerah-daerah ini sudah mempunyai hubungan politik dengan kerajaan Majapahit (J.A.Pattikayhatu, 1993 : 38 ).
Di daerah Maluku Utara sering dijumpai pertarungan politik dan peperangan  diantara keempat kerajaan besar yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan
Jailulo. Daerah ini terbagi dalam dua perserikatan politik yang saling
berhadapan yaitu, Uli lima  dibawah pimpinan Ternate dan perserikatan Uli
Siwa dibawah pimpinan Tidore. Persekutuan hegemoni diantara kedua
kerajaan ini berjalan terus sampai datangnya bangsa-bangsa Eropa di
di kepulauan Maluku. Di Maluku tengah dan Tenggara, dijumpai keadaan yang
sama pula peperangan yang hebat sering terjadi antara perserikatan pala Siwa
dan pata Lima. yaitu dua perserikatan besar di Maluku Tengah. Sedangkan di
Maluku Tenggara khususnya di kepulauan Kei semua negeri-negeri terlibat dalam peperangan Lor Lim dan Ur siu yaitu dua perserikatan politik yang muncul pula di daerah ini. Keadaan bertambah rumit pada waktu bangsa-bangsa eropa mulai ikut campur tangan dalam peraturan politik di daerah Maluku pada umumnya. (J. A. Pattikayhatu, 1993 : 39 ).
Di kepulaun Maluku telah masuk dalam jaringan perdagangan di nusantara sejak masa prasejarah. Pada pedagang mancanegara telah berhubungan dengan penduduk Maluku dalam perdagangan berbagai jenis komoditi terutama rempah-rempah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perekonomian  penduduk telah mencapai tingkat tertentu karena yang memadai berkat adanya hubungandagang yang luas itu, masyarakat di kepulauan Maluku memperdagangkan barang-barang dari luar daerah di pasar dan tiap desa mempunyai hari pasar tertentu. Disamping itu penduduk juga suka memakan daging rusa yang dibunuh di hutan. Lautan yang luas menghasilkan berbagai jenis ikan yang berlimpah dapat ditangkap dengan teknologi tradisional. Selain ikan berbagai hasil laut juga diperdagangkan atau ditukarkan pada pedagang-pedagang mancanegara. Pelabuhan terbesar yang dapat digunakan untuk berlabuh dan pusat perdagangan adalah pulau Makian. Melalui hubungan dagang yang semakin lancar, penduduk Maluku mengenal berbagai konsep pengetahuan dalam bidang perekonomian. Demikian juga mereka dapat mengenal nilai barang dan mata uang sehingga kehidupan perekonomian mereka relatif baik pada masa-masa emponium sampai dengan masa impenium. Mata uang atau alat tukar yang digunakan penduduk sangat bervariasi dan tergantung dengan siapa transaksi. Karena kekayaan  yang melimpah para pemimpin tradsional seperti Raja, Sultan dan pejabat lainnya dapat membeli budak dari hasil cengkeh dan pala. Para pedagang si Maluku dapat mengarungi lautan sampai ke Jawa dan Malaka serta pada masa kejayaan kerajaan – kerajaan tradisional seperti Tidore, Ternate dan Hitu ada kelompok  penduduk yang sudah memiliki armada-armada dagang/pelayaran yang berlayar sampai ke Jawa dan Malaka bahkan sampai ke Sulu dan Mindanao. Kehidupan perekonomian Maluku mulai merosot ketika bangsa portugis dan Belanda datang pada abad ke 16 dan 17 kemudian merekrut perdagangan rempah-rempah.
3. Kedatangan Portugis di Maluku
Dalam abad-abad lampau Maluku terkenal di dunia internasional sebagai “pulau rempah-rempah”. Sejarah Maluku berhubungan erat dengan hasil cengkeh dan pala, bahan-bahan peradangan internasional ini membawa Maluku ke dalam pergaulan antara nusantara dan antar asia.“Rempah-rempahlah yang menjadi daya tarik utama kedatangan bangsa Portugis ke Maluku. Pengetahuan orang Portugis tentang rempah-­rempah di dapat dari cerita yang datang ke Lusitama, dari perantau yang mengisahkan perjalanan mereka. Cerita din pengalaman perantau inilah yang mendorong prang Portugis berupaya mencari jalan pelayaran ke Pulau rempah-rempah” ( John. A. Pattikayhatu, 1985 : 7 ).
Mereka hadir di Maluku tepat dan bersamaan dengan adanya ketegangan - ketegangan politik dalam usaha perebutan hegemoni dan supremasi kekuasaan di daerah ini antara kerajaan-kerajaan di Maluku. Antara raja-raja Islam yang telah lebih dahulu menguasai beberapa daerah. Di tengah-tengah ketegangan politik itu Portugis turut melibatkan diri. Sebagai akibat dari keterlibatan Portugis. Maka timbullah  pertentangan-pertentangan dan ketegangan-ketegangan terus-menerus berlangsung antara rakyat di Ambon, baik rakyat Lie Hitu melawan Lie Timur maupun antara penduduk dengan Portugis. Sehingga Injil yang ditanamkan tidak berhasil mendapatkan tempat yang wajar. Dualisme tampak dalam tugas mereka, tugas yang harus mereka laksanakan adalah memerangi orang-orang Islam dan pedagang-pedagang dimana saja dan penyebaran agama Kristen (Roma Khatolik), dihadapkan dengan keharusan berdagang dengan pedagang-pedagang Islam dan bersekutu dengan sultan-sultan Islam atau dengan kepala-kepala yang beragama Islam. Politik mencari untung dicampur baurkan dengan politik  menyebar agama ( John A. Pattkayhatu. 1999 : 8-9).
Tujuan kedatangan Portugis di Ternate, tidaklah berbeda dengan kedatangan mereka di negeri-negeri lain di Asia, yang menjadi prinsip-prinsip dasar tujuan kedatangan Portugis adalah :
1.      Dorongan kuat untuk menemukan negeri-negeri Baru.
2.      Ingin menaklukkan negeri baru yang mereka temukan serta mencari kekayaan dunia terutama yang dicari adalah rempah-rempah.
3.      Hasrat untuk mengkristenkan daerah-daerah yang ditemukan.
Usaha Portugis dalam mengambil keuntungan dari kedatangannya ke Indonesia yaitu dengan cara Portugis menguasai Malaka. Portugis mengambil keuntungan dari perselisihan dan persaingan daerah untuk memperkuat kedudukannya seperti : a) Hitu bersengketa dengan Seram. Portugis membantu Hitu. B) Terante bersaing dengan Tidore. Portugis memihak Ternate. Sebagai imbalan.
Pada permulaan kedatangannya, orang-orang Portugis diterima baik oleh masyarakat Maluku, baik di Ternate maupun di Ambon. Mereka mulai mengadakan hubungan dagang dan bergaul dengan masyarakat setempat. Akan tetapi hubungan yang baik ini menjadi retak karena dua hal penting.
a.       Orang Portugis berusaha merebut dan menguasai perdagangan rempah-rempah dengan memaksakan politik monopolinya. Hal ini ditentang oleh raja-raja dan pedagang-pedagang bangsa Indonesia.
b.      Adanya perbedaan pandangan hidup antara orang-orang Portugis dan sebagian orang-orang Maluku yang bersumber pada agama masing-masing. Orang Portugis adalah penganut agama Roma Katolik dan sebagian rakyat Maluku terutama pada kerajaan-kerajaan di Maluku Utara dan Hibu di pulau Ambon adalah penganut agama Islam. Dengan demikian cara pergaulan hidup antara kedua belah pihak kadang-kadang salah ditanggapi selain itu suatu hal penting juga ialah bahwa pada masa itu terdapat perbedaan yang tajam antara kedua agama ini. Pada satu pihak sultan-sultan dan kerajaan-kerajaan Islam berusaha menyebarluaskan agama Islam. Pada pihak lain peng Injilan dari paderi-paderi Portugis meluas pula. Kedua belah pihak sama-sama panatik sesuai dengan latar belakang historis yang telah dijelaskan diatas. Dengan demikian peperangan yang tadinya terjadi antara penduduk Maluku yang beragama Islam melawan Portugis, sekarang bercabang lagi menjadi peperangan agama antara penduduk Maluku sendiri yaitu penduduk Islam melawan  penduduk Roma Katolik ( John .A. Pattkayhatu, 1984 ; 13 ).
Politik mencari untung dicampur-baurkan dengan politik penyebaran agama dualisme ini akhirnya melemahkan dan melenyapkan kedudukan mereka di Ternate dan menimbulkan peperangan hebat dengan Hitu.
4. Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis
Orang Portugis merupakan orang Eropa pertama yang tiba di Maluku dan lama juga berdiam di sana. Pengaruh mereka banyak sekali terlihat di samping pengaruh orang Eropa lainnya. Mereka datang sebagai pedagang mencari rempah-rempah. Kedatangan me­reka mula-mu1a disambut baik oleh penduduk. Namun kemudian mereka mengadakan perdagangan, dengan cara monopoli. Hal ini­lah yang menimbulkan, perlawanan orang-orang Maluku.Usaha orang Portugis untuk menguasai gudang rempah-rem­pah tidak berhasil. Permusuhan dengan Ternate disebabkan karena tindakan para Gubernur dan serdadu Portugis yang tidak bijaksana. Sikap dan tindakan mereka menimbulkan kebencian rakyat. Monopoli – monopoli yang dijalankan menimbulkan permusuhan dengan pegadang – pedagang Ternate, Tidore, Hitu, Jawa, Makassar dan Melayu ( John A. Pattkayhatu ,1984 ;12 ).
A.Peperangan di Ternate

1. Latar Belakang Perlawanan

Pada permulaan, kedatangannya orang-orang Portugis diterima baik oleh masyarakat Maluku, baik di Ternate maupun di Ambon. Mereka mulai mengadakan hubungan dagang dan bergaul dengan masyarakat setempat.1) akan tetapi hubungan yang baik ini kemudian menjadi retak karena beberapa masalah politik ekonomi dan sosial.
Dua masalah penting yang melatarbelakangi perlawanan rakyat melawan orang Portugis yang meluas menjadi peperangan terbuka itu dapat dicatat sebagai berikut :
    1. Orang Portugis berusaha menguasai perdagangan rempah-­rempah dengan melaksanakan politik monopoli. Hal ini ditentang oleh para raja dan pedagang bangsa Indonesia.
    2. Adanya perbedaan pandangan hidup antara orang Portu­gis dan sebagian orang Maluku yang bersumber pada agama masing-masing. Orang Portugis adalah menganut agama Kristen dan sebahagian masyarakat Maluku terutama di Maluku Utara dan Hitu di pulau Ambon adalah penganut agama Islam. Dengan demikian pergaulan hidup antara ke­dua belah pihak kadang-kadang salah ditanggapi ( John A, Pattkayhatu, 1984 ; 13 ).
Selain itu satu hal yang penting yang perlu dicatat bahwa pada masa itu terdapat suatu persaingan dalam penye­baran kedua agama tersebut. Kedua belah pihak sama-sama fanatik sesuai dengan latar belakang historis masing-masing. Dengan demikian  peperangan yang mulanya terjadi antara penduduk Maluku yang beragama Islam melawan Portugis,       sekarang berwujud lagi menjadi peperangan agama antara penduduk Maluku sendiri, yaitu penduduk Islam melawan penduduk Kristen. Antara kedua pihak tidak terdapat hubungan yang  sesuai tidak seimbang. Portugis lebih banyak memaksakan ke­inginannya dan keinginan itu dapat dijamin dengan adanya suatu sistem perdagangan, yang cukup maju dibandingkan dengan keadaan di Ternate. Politik monopoli dalam perdagangan dipaksakan kepada kerajaan Ternate.  Akibatnya terjadi pertikaian dalam soal perdagangan.
Seperti diketahui nama Islam sangat besar pengaruh­nya terhadap masyarakat Ternate dalam setiap segi kehidupan. Bahkan perkembangan kerajaan Ternate disebabkan pe­ngaruh agama ini. Hubungan raja-raja dengan para pedagang Islam pada hakekatnya bersumber pada adanya suatu pera­saan bahwa mereka merupakan bagian dari suatu dunia beradab yang luas dan terpandang. Sebaliknya agama Kristen sangat mempengaruhi kehidupan kenegaraan dan masyarakat di Eropa. Dan orang-orang Portugis tidak terlepas dari panggilannya juga untuk menyebarkan agamanya.
Timbullah ketegangan di antara penduduk dan kete­gangan itu bisa meledak..menjadi suatu peperangan. Kete­gangan untuk sementara dapat dikuasai oleh pemimpin Por­tugis Antoni Galvao dan Sultan Hairun (1538-1565). Galvao Sangat terkenal dalam sejarah Maluku oleh karena ia dapat mendamaikan Sultan Ternate dengan para padri Katolik. Ia juga terkenal karena suka memperhatikan cara kehidupan orang Maluku.

2. Jalannya Peperangan
Peperangan mulai dilancarkan oleh rakyat Ternate pada waktu sultan-sultan mereka dilanggar kedaulatannya oleh Portugis. Peperangan yang timbul diantara tahun 1563 – 1570 memusnahkan pekerjaan misi dan menghancurkan usaha perdagangan Portugis. Keadaan memaksa Portugis bertindak keras. Peiz dikirim sebagai komandan orang Portugis di Ambon dan membuat benteng pertahanan. Sultan Hairun mengirim pula satu armada besar dibawah pimpinan putranya Baab  Ullah ke Maluku Tengah. Armada ini dibantu oleh rakyat Hitu dan sebuah armada kecil orang Jawa. Sebaliknya Sultan Bacan yang telah menjadi Kristen dan merupakan rival Hairun mengirim armada membantu Portugis. Terjadilah pertempuran seru dan peperangan meluas kemana – mana. Panglima Portugis yang baru Peraira Maramagut dikirim ke Maluku dengan suatu armada kuat. Pertempuran berjalan terus dan kemenangan diperoleh kedua pihak silih berganti. Akhirnya dicari cara perdamaian. Pada tanggal 27 Februari 1570 diadakan perdamaian antara Ternate dan Portugis ( J. A Pattikayhatu, 1984 : 17 ).

3. Akibat Peperangan
Peperangan melawan Portugis di Ternate itu akhirnya di­menangkan oleh pihak raja Ternate. Kerajaan Ternate ber­hasil mengusir keluar semua orang Portugis dari wilayahnya bahkan terus mengejar mereka sampai ke daerah pengaruh­nya di Maluku Tengah dan membantu pula para pejuang disana. Kerajaan Ternate Baab Ullah memerintah dengan bebas tanpa gangguan seorang Portugis Pun. Sementara itu kerajaan Ternate telah dapat diluaskan oleh armada yang  dikirim Baab Ullah.
Bagi seorang Portugis peperangan ini melumpuhkan sebagian besar dari kekuatannya. Bahkan mereka dapat diusir sama sekali dari Maluku Utara, meskipun sementara dapat bertahan di Tidore. Portugis  kemudian memusatkan kekuat­an dan kekuasaannya ke Ambon. Namun di sini mereka menghadapi perlawanan dan peperangan yang sengit pula dari rakyat Maluku Tengah untuk akhirnya pada tahun 1605 ha­rus meninggalkan seluruh daerah Maluku.
B. Peperangan Di Jazirah Hitu Pulau Ambon
1.Latar Belakang Perlawanan
Politik dualisme Portugis seperti telah dijelaskan di atas, menimbulkan peperangan pula dengan kerajaan Hitu di pulau Ambon. Pulau Ambon itu terdiri atas dua jazirah yang dipisahkan oleh sebuah teluk yang indah. Jazirah dise­belah utara teluk tersebut disebut Jazirah Hitu dan Jazirah yang di Selatan disebut Jazirah Leitimur. Di Jazirah Hitu terdapat suatu pemerintahan yang dikepalai oleh Raja Hitu dan dilaksanakan oleh empat Perdana Hitu. Kerajaan Hitu pada permulaan abad ke 16 sudah memeluk agama Islam. Sampai dengan kedatangan orang Portugis pada permulaan abad ke 16, Hitu merupakan sebuah bandar atau pelabuhan singgah dan tempat untuk mengambil bahan makanan yang segar bagi kapal-kapal yang berlayar dari Malaka ke Ternate, pulang pergi ( John A. Pattkayhatu, 1984 ; 19 ).
Sejak tahun 1515 orang Portugis mempunyai sebuah loji di pantai Hitu. Hubungaan dagang pada permulaannya terjalin baik dengan Hitu. Bahkan mereka juga membantu Hitu mela­wan musuhnya yang menyerang dari pulau Seram. Tetapi ke­mudian karena tindakan yang kurang baik dan menimbulkan ketegangan, maka mereka diusir dari Hitu.  Portugis lalu ber­pindah ke Hitu Selatan. Mereka mendirikan sebuah Loji di Hatiwe-Tawiri, daerah yang pendukungnya tidak beragama Islam. Perumusan makin menjadi, baik antara Hitu dengan Hatiwe-Tawiri maupun antara Hitu dengan Portugis. Monopoli yang diperoleh Portugis dari Sultan Ternate ditentang oleh Hitu. Apalagi ketika orang Por­tugis di Ternate berselisih dengan Sultan Tobarija yang mereka tangkap lalu dibawa ke Goa. Rakyat Hitu tidak mau menerima penghinaan itu dan membantu Ternate melawan Portugis. Pecahlah perang yang hebat di pulau Ambon dan sekitarnya sampai terusirnya orang Portugis pada tahun 1605, dari seluruh daerah Maluku ( John . A.Pattikayhatu , 1984 ; 20 ).

2. Jalannya Peperangan
Ketika Tawiri mendapat gangguan dari penduduk Hitu, mereka meminta bantuan dari Portugis di Ternate yaitu Galvao dikirimlah suatu armada yang terdiri dari 25 buah kora-kora pada tahun 1537. Pihak Hitu juga tidak mau ketinggalan dan meminta bantuan dari sekutunya pula. Hitu mendapat bantuan dari jawa, yaitu dari Ratu Jepara. Selain itu bantuan diperoleh juga dari Makassar dan Banda yang mengirimkan kora-kora mereka dengan tentara pula (John A. Pattikayhatu.1984;20 ).
Pertempuran sengit berkobar. Gabungan armada Hitu, Banda Makassar dan Jawa menyerang kapal-kapal Portugis. Pada pertemuan ini ternyata pihak Portugis yang menang. Setelah kemenangan itu armada mereka menjelajah seluruh pulau Ambon untuk menarik desa-desa memihak pada mereka.
3.Akibat Peperangan
      Lembaran sejarah yang digambarkan diatas, dapat dikatakan termasuk lembaran sejarah terhitam dalam sejarah perkembangan agama Islam dan agama Kristen di Maluku khususnya di pulau Ambon dan sekitarnya. Kekejaman yang dilakukan di lain-lain daerah di dunia ini, misalnya di sekitar Laut Tengah semasa Perang Salib. Kemungkinan sekali keadaan yang buruk itu lambat laun menyadarkan rakyat di berbagai negeri (kampung). Kepala-kepala adat, orang-orang kaya, raja-raja mencari jalan untuk berdamai ( John A. Pattikayhatu, 1984 ; 25 ).
Kemungkinan besar persekutuan pela (saudara) yang dikenal sampai sekarang ini, timbul di kemudian hari sebagai hasil kesadaran akan masa yang gelap itu. Persekutuan pela itu adalah suatu jalan untuk mengakhiri permusuhan antara Islam dan Kristen. Buktinya sampai sekarang ialah dijumpainya negeri-negeri Kristen berpela dengan negeri-negeri Islam ( John A. Pattikayhatu, 1984 ; 25 ).
Suatu akibat lain ialah bahwa permusuhan yang hebat antara rakyat dengan rakyat dengan Portugis, membuka jalan bagi suatu kekuasaan baru untuk menguasai seluruh Maluku. Dan kekuatan baru itulah adalah orang-orang Belanda yang berhasil menanam kekuasaannya dengan memanfaatkan keadaan dan situasi dari peperangan tersebut. Bagi kerajaan Hitu, peperangan ini membawa banyak korban jiwa dan benda.

C.Peperangan Dengan Hutumuri Di Leitimur
 1.  Latar Belakang Perlawanan
Sejak hubungan dengan Hitu menjadi tegang, Portugis lalu berpindah ke selatan dan menuju teluk Ambon. Di teluk mereka bersekutu dengan negeri-negeri Hative, Nusaniwe, Halong dan Amantelo.
Kedatangan Portugis di Leitimur, menggusarkan hati rakyat di sana, khususnya rakyat Soya. Mereka tidak setuju menerima kedatangan Portugis, setelah mereka meli­hat bahwa Portugis datang sebagai pedagang dan tindakannya dalam mencari keuntungan merugikan rakyat sekitarnya. Bahkan melihat sikap dan tindakan Portugis itu mereka ber­anggapan bahwa orang Portugis datang untuk merebut tanah mereka. Ketika Portugis bertekad membuat benteng dengan bantuan orang Hatiwe dan orang Mardyber maka pada malam hari orang-orang Soya mem­bongkar benteng tersebut. Usaha orang Soya kemudian gagal karena Portugis lebih unggul perlengkapan perangnya. Keadaan ini me­nyebabkan Soya tawar hati dan selanjutnya mengikuti jejak negeri-negeri lain dan bersekutu dengan Portugis. Sejak saat itu pengkristenan berjalan lancar di Leitimur ( John A. Pattkayhutu, 1984 ; 27 ).
2.  Jalannya Peperangan
Sebelum menyerang Hutumurii, Portugis terlebih dahulu mengadakan persiapan..Usaha ke arah itu ialah memperalat rakyat pribumi lainnya dari dijadikan pembantu utama dalam peperangan. Portugis berhasil mengambil hati dan bekerja sama dengan para kapi­tan (Pemimpin perang) dari negeri-negeri Soya dan Ema antaranya Kapitan Tamtelahitu dari Soya dan Kapitan-Ka­pitan Tanihatu dan Pori dari Ema. Kedua negeri tetangga ini sering bermusuhan dengan Hutumuri sejak dahulu. Sete­lah dihasut mereka berperang kemudian Portugis menjalan­kan siasat berunding. Namun Hutumuri menolak dan bersiap­siap menghadapi Portugis. Untuk menghadapi peperangan rakyat Hutumuri atau Leunusa memperkuat benteng per­tahanan mereka di puncak gunung yang disebut “Gunung Maot”. Benteng itu merupakan sebuah benteng alam yaitu sebuah bukit terjal yang dipagari dengan tembok batu dan mempunyai pintu-pintu rahasia dan pos-pos penjagaan dan pengintaian yang dijaga ketat oleh para pemuda. Pada sebuah dataran dekat benteng tersebut terletak negeri Hutumuri ( John A. Pattikayhatu , 1984 ; 28 ).
Serangan pendahuluan dilakukan oleh pasukan dari Ka­pitan Soya Tamtelahitu. Serangan gagal dan Tamtelahitu  mati terbunuh. Portugis melanjutkan serangan namun dapat ditangkis oleh rakyat Hutumuri. Mereka mempertahankan diri dengan hanya bersenjata parang, tumbak dan gantungan batu dan pohon-pohon besar yang dilepaskan melalui lereng gunung dan benteng menerjang pasukan-pasukan musuh.
Dengan bantuan seorang wanita yang tertangkap, raha­sia benteng Gunung Maot dapat diungkap. Melalui serangan beberapa kali akhirnya rakyat Hutumuri dapat ditaklukkan Portugis. Mereka kemudian dipaksa meninggalkan kampung­nya di gunung itu dan berdiam dekat benteng Portugis. Pada tahun 1570 dimulailah usaha pengkristenan terhadap mere­ka ( John A. Pattikayhatu , 1984 ; 29 ).
Akan tetapi usaha Portugis untuk menjinakkan rakyat Hutumuri ini ternyata gagal. Pada saat pengawasan Portugis kurang ketat, mereka meninggalkan pemukiman dekat benteng Portugis itu dan kembali ke kampungnya yang lama. Pada suatu serangan tahun 1586, Hutumuri dapat dimasuk­kan lagi dalam kekuasaan Portugis setelah negeri mereka di­ bumi hanguskan. Untuk sementara mereka tunduk pada Por­tugis.
             Perlawanan Terhadap Belanda
A.Perlawanan Di Pulau Banda
Sejak dahulu kepulauan Banda telah dikenal dalam dunia pergiagaam Asia maupun nusantara. Belanda meruapakan satu – satunya penghasil buah dan bunga pala.pelabuhan Naira merupakan pelabuhan transito yang ramai dalam rute pelayaran Jawa – Banda – Hitu – Ternate – Tiongkok dan sebagainya. Rakyat Banda selalu meninkmati suasana kebebasan dalam perdagangan dan kehidupannya.

1.      Latar Belakang Peperangan
Perebutan antara berbagai pedagang Eropa untuk menguasai Kepulauan Banda dapat dikatakan mulai dilancarkan sejak tahun 1609. pada waktu itu pemerintah Belanda mengirim suatu armada yang kuat dipimpin oleh Admiral Verhoeff dan Vice Admiral Wihttterent untuk menduduki semua pulau rempah – rempah.  Mereka diintruksikan untuk berunding dengan pejabat setempat. Kalau hal ini tidak terwujud maka kekerasan harus dipakai. Ditempat – tempat yang diduduki secara kekerasan, atau diplomasi harus didirikan benteng kecil yang dikawal oleh tentara. Maksudnya untuk menghalang pedagang Eropa lainnya ( John . A. Pattikahatu. 1984 : 31 ).
Verhoeff danWihtterett tiba di Banda pada tahun 1609. mereka menemui para pemuka rakyat pulau itu dan mengadakan perundingan dalam hal monopoli perdagangan rempah – rempah. Rakyat bersedia karena mereka sudah lama tidak didatangi orang – orang Portugis. Jadi tidak ada halangan apa – apa bagi pemberian monopoli kepada Belanda. Akan tetapi setelah Verhoeff mendesak mendirikan suatu benteng, timbul kesulitan. Sebuah benteng bererti bahwa mereka tidak dapat bergerak lagi dalam perdagangan.sebagaian besar rakyat Banda menolak tuntutan Verhoeff. Namun ada juga sebagaian kecil yang menerima.dan ini merupakan suatu permulaan perselisihan dikalangan rakyat Banda sendiri. Mereka semua tidak bersatu pendapat dan ini kelak ternyata dalam jalannya peperangan melawan Belanda ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 31 ).
 2.   Jalannya Peperangan
Peperangan melawan VOC dapat dibagi dalam dua periode. Periode pertama dimenangkan oleh rakyat Banda dan pada periode kedua dimenangkan oleh Belanda. Perang mulai berkobar pada waktu Verhoeff disergap oleh pasukan rakyat dalam perjalanannya menuju temapat perundingan tunk pembuatan benteng ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 32 ).
Pasukan Verhoeff mula – mula nampaknya janggal kerena kekuatan senjata apinya. Rakyat Banda bertempur dengan sejuta lembing dan panah. Tetapi senjata api itu tidak adapat melawan serangan yang bertubi – tubi dari pihak rakyat Belanda. Dalam pertempuran seru Verhoeff gugur dan pasukannya mengundurkan diri ke kapal mereka. Pimpinan pasukan Beland diambil oleh Wihtteret.Ia mencoba meyerang orang – orang Banda kembali tetapi gagal sama sekali. Tetpaksa ia menyingkir dengan sisa pasukan dan armadanya ke Ambon. Untuk sementera rakyat Banda bersorak – sorai kemenangan. Akan tetapi pada waktu itu VOC sedang berusaha sekuat tenaga dan bertekad melaksanakan monopoli perdagangan rempah – rempah di Maluku. Gubernur Jendral VOC yang mensponsori cara kekerasan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Jan Pieterszoon Coen. Ia menjadi Gubernur Jendral pada tahun 1619, Coen yakin bahwa cita – citanya dapat tercapai memingat Portugis pada waktu itu sudah lemah.namun ia masih berhati – hati dengan orang Inggris yang pada waktu itu juga sedang berhbungan dagang dengan rakyat Banda dan masih terjalin suatu persahabatan antara Belanda dan Inggris. Pada tahu 1612 Coen mendapat kesempatan untuk melaksanakan cita – citanya yaitu memaksa penduduk Maluku khususnya rakyat Banda untuk mengakui dan menerima hak monopoli VOC. Dengan suatu armada yang besar ia menuju Ambon. Setelah mengumpulkan sejuta tentara lagi aia melanjtkan perjalanannya dengan armadanya ke Banda. Peperangan pecah kembali dan berlansung dengan hebat. Orang – orang Banda yang dipimpin oleh para orang kaya ( kepala pemerintaha di kampung – kampung ) mengadakan perlawanan yang sangat kuat. Akan tetapi akhirnya rakyat Banda dapat dikalahkan Coen sebabnya karena mereka tidak mempunyai suatu organisasi yan terpusat. Tidak ada suatu kerajaan yang dapat menghimpun semua tenaga penduduk ke pulau itu. Antara desa-desa terdapat perbedaan-perbedaan. Suatu pihak memihak VOC sekalipun tidak terlalu besar. Kadang-kadang mereka bersatu kembali dengan pihak yang menentang VOC. Namun demikian sudah tidak terdapat satu keutuhan dimana seluruh pihak melawan VOC secata serentak. Suatu kelemahan lain ialah bahwa tidak adanya suatu hubungan yang erat dengan sekutu-sekutunya ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 32 ).
Inggris yang tadinya berjanji akan membantu dengan senjata ternyata tidak memenuhinya. Mereka segan memikul resiko bila berhadapan dengan Coen. Perang Banda ini berlansung dengan sangat kejam, banyak penduduk yang dibunuh. Rupanya Coen sudah mempunyai rencana yaitu tidak membiarkan lagi pulau ini dikuasai oleh penduduknya. Pembunuhan-pembunuhan terus dilaksanakan tentaranya.Malah semua pemuka rakyat Banda yang telah menyerahkan diri dibunuhnya. Sebagian kecil diangkut ke Batavia. Sisa penduduk Banda dapat melarikan diri terutama mereka yang beragama Islam. Mereka menyingkir dengan perahu – perahu kerajaan Hatuhaha di Pulau Haruku. Sebagian lagi tersebar kekepulauan Gorong dan pantai Seram Timur. Dengan bantuan Sultan Hasanudin dari Makassar sebagaian penduduk Banda juga ditampung di Makassar  ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 33 ).

3. Akibat Peperangan
Setelah perang itu VOC dapat menguasai kepulauan Banda kemudian  dinyatakan sebagai milik VOC. Tanah – tanah pertanian rakayat yang kaya akan pala itu tidak dibiarkan oleh Beland begitu saja. Tanah tersebut ditawarkan kepada siapa saja yang mau mengerjakan terutama kepada bekas tentara dan pegawai VOC. Akhirnya tanah – tanah itu menjadi milik oaring – orang Belanda dan orang – orang Eropa lainnya yang disebut sebagai Perken. Perken itu dikerjakan dengan tenaga para budak yang didatangkan dari berbagai tempat sebagai para tawanan. Selain itu orang – orang Cina yang terdampar di Banda juga menjadi pekerja Perken. Sejak tahu 1623 Banda menjadi suatu masyarakat yang tersendiri dan terisolasi dari dunia luar. Dalam masa Voc daerah ini diperintah oleh seorang pejabat yang disebut Gouverneur. Perlawanan penduduk Banda pada tahun 1621 – 1623 merupakan perlawanan pertama yang dilancarkan terhadap imperialisme Belanda di daerah Maluku yang kemudian meluas menjadi peperangan hebat di daerah Maluku Tengah yaitu di Pulau Ambon, Lease dan Seram.Bagi Belanda peperangan ini merupakan suatu batu ujian terhadap metode kekerasan yang ternyata sangat efektif bagi penegakan kekuasaan mereka di daerah kepulauan rempah – rempah sungguh suatu pelanggaran terhadap peri kemanusiaan ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 34 ).
B.Perlawanan Rakyat Hitu
  1. Latar Belakang Perlawanan
Kedatangan Belanda di Maluku telah membuka lembaran baru dalam sejarah kehidupan masyarakat di daerah itu. Penjajahan Portugis diganti dengan penjajahan Belanda. Pergantian penjajahan ini tidak berarti membawa perubahan yang diharapkan oleh masyarakat. Kekejaman, kelaliman, keserakahan,keangkuhan dan kesewenang – wenangan yang di manifestasikandalam sikap dan tindakan Belanda mengakibatkan rakyat mulai waspada dan berjaga-jaga terhadap setiap kemungkinan yang bakal terjadi diatas diri mereka.
Dengan direbutnya benteng kota Laha  pada tahun 1605 oleh Belanda dari tangan Portugis menyebabkan keangkuhan Belanda makin bertambah. Nafsu ekspansi Belanda pada suatu pihak untuk menguasai daerah – daerah di Ambon dan sekitarnya mendapat tantangan keras dari rakyat pada pihak lain. Usaha untuk melepaskan diri dari penderitaan hidup yang telah dialami mereka selama pemerintahan penjajahan Portugis telah mendorong mereka untuk lebih memperlengkapi diri menentang kekuasaan Belanda. Dimata orang – orang Hutumuri, orang Belanda adalah sama dengan orang Portugis yang merupakan musuh mereka. Dan untuk itu bagi mereka tidak ada pilihan lain selain mengangkat senjata dan berperang melawan Belanda ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 43 ).

  1. Jalannya Peperangan
Dipuncak  gunung Maot rakyat Hutumuri menyusun dan memperkuat suatu tempur mereka. Dibawah pimpinan para kapitan dan dibantu oleh Malessi satuan – satuan tempur itu dibentuk. Daerah sekitar benteng diperkuat dan diawasi secara teliti dan sangat hati -  hati. Seluruh rakyat tua muda dipersiapkan untuk berperang dan mempertahankan benteng gunung Maot itu ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 44 ).
Persiapan rakyat dalam mempersenjatai diri akhirnya diketahui oleh Belanda. Untuk mengambil hati rakyat yang sementara mempersiapkan diri itu Belanda berusaha keras dengan memergunakan cara licik yaitu dengan membentuk suatu dawan. Pembentukan dewan ini didasarkan atas tuntutan rakyat untuk menempatkan wakil – wakilnya dalam lendraat yang sejak semula hanya terdiri dari dua orang kaya yang diketahui oleh Gubernur ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 44 ).
             Begitulah dengan cara yang licik dan halus Belanda secara berangsur – angsur berusaha untuk menguasai rakyat. Namun usaha Belanda ini gagal sama sekali. Rakyat berperang mati – matian mempertahankan tanah airnya. Baru sesudah lima kali penyerangan berturut – turut Belanda dengan kekuatan tempur dalam jumlah yang jauh lebih besar dari kekuatan tempur rakyat Hutumuri ditambah dengan peralatan tempur yang jauh lebih besar dan ditunjang dengan kemampuan mengatur taktik serta tehnik berperang, akhirnya benteng gunung Maot dapat direbut.
            Namun demikian walaupun rakyat Hutumuri kalah dalam perjuangan ini tetapi semangat dan jiwa kepehlawanan mereka yang telah dimiliki sejak berabad – abad lamanya tidak akan berputar melainkan semangat dan jiwa tempur ini akan bangkit kembali dalam usaha mereka selanjuntnya dalam usaha untuk melepaskan diri dari kekejaman kaum penjajah dalam segala bentuk dan manifestasinya ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 48 ).

  1. Akibat Peperangan
Sebagaimana telah disinggung pada uraian terdahulu bahwa rakyat Hutumuri dalam perjuangan ini telah bersekongkol dengan rakyat Ihamahu dan dari Saparua, dengan rakyat Hitu, pedagang – pedagang Islam lainnya yang berada di Hitu, ( Jawa, Makassar, Melayu ) dan serangan rakayat di Ternate yang selalu menentang bangsa – bangsa barat tersebut serta orang buni putra lainnya. Hubungan ini jelas mengandung suatu arti yang sangat luas dan mengandung makna yang dalam bila dilihat dalam rangka menciptakan suatu rasa persatuan dan kesatuan. Suatu perasaan nasional yang dibuthkan olah bangsa Indonesia dalam usaha perjuangan mereka menciptakan suatu masyarakat bangsa Indonesia yang bebas merdeka, serta adil dan makmur dikemudian hari ( John . A. Pattikahatu. 1983 : 48 ).
 

John A. Pattikayhatu. dkk. 1983. Sejarah Perlawanan Terhadap Imprealisme dan Kolonialisme di Daerah Maluku. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
R.Z. Leirissa. dkk. 1999. Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
J.A. Pattikayhatu. 1993. Sejarah Daerah Maluku. Ambon. Depdikbud.
R.Z. Leirissa. dkk. 1999. Sejarah Kebudayaan Maluku. Jakarta. Depdikbud.






































Tidak ada komentar:

Posting Komentar