Rabu, 29 Desember 2010

KEDATANGAN BANGSA BELANDA DI INDONESIA


      A.    Latar Belakang Kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia
Kedatangan orang-orang Eropa yang pertama di Asia Tenggara pada awal abad XVI kadang-kadang dipandang sebagai titik penentu yang paling penting dalam sejarah kawasan ini. Pandangan ini tidak dapat dipertahankan. Meskipun orang-orang Eropa, terutama kedatangan orang-orang Belanda memiliki dampak yang besar terhadap Indonesia. 
Setelah bangsa Portugis datanglah orang-orang Belanda yang mewarisi aspirasi-aspirasi dan startegi Portugis. Orang-orang Belanda membawa organisasi, persenjataan, kapal-kapal, dan dukungan keuangan yang lebih baik serta kombinasi antara keberanian dan kekejaman yang sama. Mereka nyaris mencapai apa yang telah diinginkan orang-orang pertugis, tetapi yang tidak berhasil diperolehnya, ialah menguasai rempah-rempah yang ada di Indonesia.akan tetapi Orang-orang Belanda melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Bangsa Portugis, yaitu mereka menjadikan tempat berpijak yang tepat di Jawa. Inilah yang membuat keterlibatan mereka pada dasarnya berbeda dengan Bangsa Portugis, yang akhirnya akan menyebabkan Belanda menjadi suatu kekuataan penjajah yang berpangkalan di daratan di Jawa. 
Adapun Faktor-faktor yang mendorong bangsa-bangsa eropa menjelajahi samudra menuju belahan dunia Timur adalah:
a.       Kisah perjalanan Marcopolo (1254-1324) seorang pedagang dari Venesia, Italia ke Cina yang dituangkan dalam buku “Book of Various Experiences” mengisahkan tentang keajaiban dunia atau Imago mundi.
b.       Jatuhnya Konstantinopel, Ibukota Romawi Timur ke tangan kesultanan Turki tahun 1453 menyebabkan terputusnya hubungan dagang ke dunia Timur. Bangsa Barat berusaha mencari jalan sendiri ke pusat rempah-rempah di Asia.
c.       Adanya semangat penaklukan (Reconquesta) terhadap orang-orang yang beragama Islam serta membuat daerah-daerah kekuasaan yang dimiliki kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Semangat penaklukan ini misalnya dilakukan oleh Spanyol – Ratu Isabella membiayai penjelajahan Samodra Columbus tahun 1492 untuk mencari jalan ke “Barat”
d.      Berkembangnya teknik pelayaran dan penemuan kompas. Kompas dapat berfungsi menentukan arah dan posisi laut. Mereka menciptakan kapal yang lebih mudah dan lebih cepat digerakkan dengan memperbaiki konstruksi kapal serta memadukan layar yang berbentuk segi tiga dengan tali temali persegi.
e.       Penemuan Copernicus yang didukung oleh Galileo-Galileo menyatakan bahwa bumi ini bulat. Pendapat ini memperkuat keberanian para pelaut karena orang yang berlayar ke dunia Timur tidak akan tersesat. Semakin ke Timur akan sampai ke tempat semula.
f.       Adanya keinginan untuk mengetahui lebih jauh mengenai rahasia alam semesta, keadaan geografi dan bangsa-bangsa yang tinggal di belahan bumi lain.
g.      Ingin memperoleh keuntungan/kekayaan sebanyak-banyaknya 
Pada tahun 1580 Portugis diduduki oleh Spanyol, sementara itu Belanda terlibat perang kemerdekaan melawan Spanyol tahun 1568-1648 (lihat kegiatan Belajar 1) maka oleh Spanyol para pedagang Belanda tidak diijinkan membeli rempah-rempah yang berpusat di Lisabon. Para pedagang Belanda kemudian berusaha mencarikan sendiri pusat rempah-rempah di dunia Timur.
Perang kemerdekaan bangsa Belanda melawan Spanyol pada tahun 1560-an dan berakhir pada tahun 1648 telah membawa perubahan-perubahan besar. Orang-orang Belanda telah bertindak sebagai perantara dalam penjualan rempah-rempah secara eceran dari Portugal ke Eropa bagian utara, tetapi perang kemerdekaan bersama dengan persatuan antara raja Spanyol dan raja Portugal pada tahun 1580 mengacaukan jalur mereka untuk mendapatkan rempah-rempah yang dibawa dari Asia oleh orang-orang Portugis. Orang-orang Portugis berusaha merahasiakan rincian-rincian jalur pelayaran ke Asia, tetapi ada orang-orang Belanda yang bekerja pada mereka. Yang paling terkenal diantaranya adalah Jan Huygen van Linschoten.
 Pada tahun 1595-1596 Jan Huygen van Linschoten menerbitkan buku yang berjudul Itinerario near Oost ofte Portugaels Indien (catatan perjalan ke Timur atau Hindia Portugis) yang memuat peta-peta dan deskripsi-deskripsi yang rinci mengenai penemuan-penemuan Portugis. Para petualang Belanda beruntung karena mereka memperoleh informasi perjalanan bangsa Portugis ke Asia dan Indonesia dari Jan Huygen Van Linschoten, seorang penjelajah Belanda yang ikut pelayaran Portugis sampai di Indonesia.
Sekarang orang-orang Belanda tidak hanya mengetahui kekayaan Asia yang melimpah ruah saja, tetapi juga persoalan-persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Portugis di Indonesia. Orang-orang Belanda meningkatkan penyempurnaan kontruksi kapal dan persenjataan mereka, maka mereka yakin bahwa orang-orang Portugis di Asia tidak dapat menandingi mereka.

Ekspedisi pertama Belanda tahun 1595 siap berlayar ke Hindia Timur. Empat buah kapal dengan dua ratus empat puluh sembilan awak kapal dan enam puluh empat pucuk meriam berangkat di bawah pimpinan Cornelis de Houtman menuju Indonesia melalui lautan Atlantik. Mereka menyusuri pantai barat Afrika dan sampai ke tanjung harapan. Dari tanjung harapan mereka mengarungi lautan hindia kemudian masuk ke indoneia melalui selat sunda, mereka menghindari jalur selat malaka karena pada saat itu malaka di bawah kekuasaan portugis.
Pada tahun 1596, Cornelis de Houtman dengan empat buah kapal berawak kapal 249 orang mendarat di Banten. Kehadiran Belanda di Nusantara mengawali penjajahan di Indonesia ditandai dengan terbentuknya VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) tahun 1602. Pada saat itu Banten merupakan pusat perdagangan lada terbesar di Jawa Barat, karena adanya tindakan yang sewena-wena dan tindakan kasar, para pelaut belanda kurang mendapatkan sambutan kurang baik dari masyarakat Banten. Dari Banten mereka bermaksud mencapai Maluku untuk memperoleh rempah-rempah akan tetapi, mereka gagal. Dilepas pantai Madura orang-orang Belanda membunuh penguasa lokal pada waktu orang tersebut mendayung perahunya mendekati kapal Belanda untuk berbicara dengan mereka. Akhirnya, pada tahun 1597 dengan terpaksa para pelaut tersebut kembali ke belanda dengan membawa cukup banyak rempah-rempah diatas kapal mereka.

  1. VOC dan Hak Istimewanya di Indonesia
Pada tahun 1598 untuk mengatasi persaingan ketat tidak sehat sekaligus mematahkan dominasi Portugis, seorang anggota states General (Parlemn Belanda) bernama Johan Van Oldebartnevelt telah mengajukan usul yang mengejutkan. Usulnya yaitu berupa penggabungan (Merger) seluruh perusahaan dagang yang ada di Belanda menjadi satu serikat dagang.
Atas usul Johan Van Oldenbarneveld dibentuklah sebuah perusahaan yang disebut Vereemigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tanggal 20 Maret 1682. Tujuan pembentukan VOC tidak lain adalah menghindarkan persaingan antar pengusaha Belanda (intern) serta mampu menghadapi persaingan dengan bangsa lain terutama Spanyol dan Portugis sebagai musuhnya (ekstern)
 Pada bulan Maret 1602 perseroan-perseroan yang saling bersaing itu bergabung membentuk Perserikat Maskapai Hindia Timur” (Vereenigde Oostindische Compagnie,VOC) yang biasa di kenal dengan nama/sebutan VOC. Kepentingan yang bersaing itu diwakili oleh sistem Majelis (Kamer) untuk enam wilayah di negeri Belanda. Setiap Majelis mempunyai sejumlah direktur yang telah disetujui, yang seluruhnya berjumlah 17 (tujuh belas) yang dikenal dengan sebutan Heren XVII (Tuan-tuan Tujuh Belas). (M.C. Ricklers. Sejarah Indonesia Modern. 1993:39). VOC merupakan sebuah badan yang kuat, yang mengawasi perdagangan Belanda, tidak hanya di Nusantara, tetapi juga di Srilangka, dan kawasan yang merentang dari Tanjung Harapan hingga ke Jepang, dipimpin dari Amstredam. (Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. 2005:61).
Hak-hak Istimewa VOC adalah sebagai berikut:
a.       Dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia
b.      Monopoli perdagangan
c.       Mencetak dang mengedarkan uang sendiri
d.      Mengadakan perjanjian
e.       Menaklukkan perang dengan negara lain
f.       Menjalankan kekuasaan kehakiman
g.      Pemungutan pajak
h.      Memiliki angkatan perang sendiri
i.         Mengadakan pemerintahan sendiri.
Dengan hak khusus tersebut, VOC menjadi lembaga pemerintahan sekaligus menjadi perdagangan yang otonom di wilayah jajahan yang di pimpin oleh seoran gubernur jenderal menjalankan dua perang sekaligus yaitu sebagi direktur perusahaan dan pimpinan pemerintahan.
Personel VOC di Asia tidaklah selalu bermutu tinggi, terutama pada tahun-tahun terakhir masa kekuasaannya. Sulit ditemukan orang-orang terhormat yang mempunyai keinginan untuk menempuh karier yang berbahaya di Asia. Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda, tetapi sebagian besar personelnya bukanlah orang Belanda. Personel-personel Belanda adalah para Petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelek dari seluruh Eropalah yang mengucapkan sumpah setia. Ketidakberdayagunaan, ketidakjujuran, nepotisme, dan alkoholisme tersebar luas di kalangan VOC. Terjadi banyak kekejaman yang menurut pikiran modern sangat menjijikan, tetapi juga harus diingat bahwa masa itu merupakan abad kekejaman, dan orang-orang Indonesia sendiri juga tidak lebih lembut.   
Untuk menangani secara lebih tegas lagi urusan-urusan VOC di Asia, maka pada tahun 1610 diciptakan jabatan gubernur jenderal. Untuk mencegah kemungkinan kekuasaan gubernur jenderal yang bersifat despotis, maka dibentuklah Dewan Hindia (Raad van Indie) untuk menasihati dan mengawasinya. Walaupun Tuan-tuan XVII masih tetap memegang seluruh kekuasaan serta mengangkat dan juga memecat gubernur jenderal, tetapi tampak jelas bahwa kegiatan-kegiatan di Asia mulai tahun 1610 sebagian besar ditentukan oleh Gubernur Jenderal.
Selama masa jabatan tiga orang gubernur jenderal yang pertama (1610-1619) yang dijadikan pusat VOC adalah ambon, tetapi tempat itu ternyata tidak begitu memuaskan untuk dijadikan markas besar. Walaupun Ambon terletak tepat dijantung wilayah penghasil rempah-rempah, namun tempat ini jauh dari jalur-jalur perdagangan Asia dan jauh dari kegiatan-kegiatan VOC di tempat-tempat lain mulai dari Afrika sampai Jepang. Belanda mulai mencari suatu tempat yang lebih baik untuk dijadikan sebagai suatu ‘pusat pertemuan’, suatu pelabuhan yang aman tempat mereka dapat mendirikan kantor-kantor, gudang-gudang, dan fasilitas-fasilitas bagi angkutan laut mereka.
Cara Belanda memperoleh monopoli perdagangan di Indonesia
a.       Melakukan pelayaran hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang dilakukan VOC adalah merampas setiap kapal penduduk yang menjual langsung rempahrempah kepada pedagang asing seperti Inggris, Perancis dan Denmark. Hal ini banyak dijumpai di pelabuhan bebas Makasar.
b.      Melakukan Ekstirpasi yaitu penebangan tanaman, milik rakyat. Tujuannya adalah mepertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot bila hasil panen berlebihan (over produksi). Ingat hukum ekonomi!
c.       Perjanjian dengan raja-raja setempat terutama yang kalah perang wajib menyerahkan hasil bumi yang dibutuhkan VOC dengan harga yang ditetapkan VOC. Penyerahan wajib disebut Verplichte Leverantien
d.      Rakyat wajib menyerahkan hasil bumi sebagai pajak, yang disebut dengan istilah Contingenten
Pusat perdagangan pertama VOC yang tetap telah dibangun di Banten pada tahun 1603, tetapi tampak jelas bahwa tempat ini tidak cocok untuk dijadikan markas besar. Di tempat ini mereka mendapat saingan yang hebat dari para pedagang Cina dan Inggris, dan kota ini berada di bawah kekuasaan warga Banten yang kaya dan kuat.
Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Satu-satunya yang tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang tetap dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama Timor Timur. Belanda menguasai Indonesia selama hampir 350 tahun, kecuali untuk suatu masa pendek di mana sebagian kecil dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang Jawa Britania-Belanda dan masa penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sewaktu menjajah Indonesia, Belanda mengembangkan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah mitos belaka karena wilayah Aceh baru ditaklukkan kemudian setelah Belanda mendekati kebangkrutannya.
Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.  (http://handoyo74.wordpress.com/2007/11/16/kolonialisme-di-indonesia/s)
Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.
Adapun  faktor-faktor kemunduran yang menyebabkan kemunduran dan kebangkrutan VOC adalah: :
a.         Banyak pegawai VOC yang curang dan korupsi
b.    Banyak pengeluaran untuk biaya peperangan contoh perang melawan Hasanuddin dari Gowa.
c.    Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuhkan pegawai yang banyak
d.   Pembayaran Devident (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah pemasukan VOC kekurangan
e.    Bertambahnya saingan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis.
f.     Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal menganjurkan perdagangan bebas.
  1. Batavia sebagai Pangkal Tolak Menanamkan Kekuasaan Belanda ke-seluruh Indonesia.
Pada bulan Desember 1618 Banten mengambil keputusan untuk menghadapi Jayakerta dan VOC. Laksamana Inggris, Thomas Dale didesak supaya besedia pergi ke Jayakerta untuk mengusir orang-orang Belanda yang ada di sana. Di pelabuhan dia dihadang Coen bersama armadanya yang kecil tetapi Dale dapat memaksa Coen mundur. Coen kemudian berlayar ke Maluku guna menghimpun armada yang lebih besar, sementara Dale dan Wijayakrama bersama-sama mengepung benteng Belanda. Personel VOC hanya menghabiskan waktu mereka untuk pesta-pesta mabuk dan amoral. Akhirnya    pada tanggal 12 Maret 1619  personel VOC, mengambil keputusan untuk memberi nama baru bagi kota itu yaitu ‘Batavia’yang berasal dari kata Batavieren yakni nama bangsa yang menjadi nenek moyang Belanda. Jakarta yang dulu bernama Batavia dikuasai oleh VOC serta di jadikan sebagai tempat kedudukan kantor pusat VOC, Itulah awal mulanya VOC mempunyai daerah kekuasaan di tanah air Indonesia.
Setelah berpusat di Batavia, VOC melakukan perluasan kekuasaan dengan pendekatan serta campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia antara lain Mataram, Banten, Banjar, Sumatra, Gowa (Makasar) serta Maluku. Akibat hak monopoli yang dimilikinya. VOC memaksakan kehendaknya sehingga menimbulkan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Untuk menghadapi perlawanan bangsa Indonesia VOC meningkatkan kekuatan militernya serta membangun benteng-benteng seperti di Ambon, Makasar, Jayakarta dan lain-lain.
Sementara itu pengangkatan Jan Pieterszoon Coen sebagai salah satu petinggi pelaksana lapangan telah mendorong VOC semakin percaya dengan kebijakan yang bersifat ekspansif. Figur yang telah menjadi Direktur Jenderal VOC di Banten sejak tahun 1613 itu berhasil meyakinkan para petinggi VOC di Amsterdam bahwa “tidak ada perdangangan tanpa perang dan juga tidak ada perang tanpa perdagangan”.kebijakan itu semakin mudah untuk diwujudkan ketika Jan Pieterszoon Coen diangkat menjadi Gubernur Jenderal pada tahun 1619.
 Dibawah Jan Pieterszoon Coen, Bandar Jakarta pada tahun 1621 bertambah ramai dan maju. Jan Pietszoo Coen telah berusaha agar perdagangan Banten mundur, untuk meramaikan Batavia, Jan Pieterszoon Coen mendatangkan orang-orang dari luar terutama orang-orang cina, mereka berusaha bertani agar Batavia memperoleh bahan makanan. Selain berdagang dan bertani, orang-orang Cina memang dikenal rajin dan tekun dalam pekerjaannya.
VOC menganggap Banten musuh yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada kerajaan Mataram. Selain lebih dekat dengan pusat kekuasaan dan kekuatannya, Banten juga selalu berusaha untuk mengambil kembali wilayah kekuasaannya yang di duduki oleh Belanda dengan cara kekerasan. Oleh karena itu, VOC yag memang dikenal licik berusaha mendekati kerajaan tetangga yang lain yakni kerajaan Mataram. Untuk keperluan itulah sehingga pada tahun 1614 VOC mengirim utusannya yang bernama Caspav Van Surck ke ibukota mataram menghadap raja.

Tampilnya VOC sebagai pihak ketiga dalam persaingan ekonomi politik antar-kerajaan lokal telah menimbulkan dampak yag luar biasa. Di Jawa, berbagai kontrak yang ditandatangani oleh Amangkurat I dengan VOC, misalnya telah menyebabkan perdagangan pribumi di pesisir utara mengalami kebangkrutan. Berkaca pada keruntuhan Majapahit oleh Demak pada 1400 Saka (1478 Masehi), Mataram mengangap dunia pesisir sebagai ancaman yang serius. Untuk itu ia bersekutu dengan VOC.
Pada waktu itu sultan agung baru saja dinobatkan menjadi raja Mataram, VOC diijinkan untuk mendirkan Loji di Jepang, para penguasa  di Banten (Jayakarta) sangat kecewa oleh utusan dari pemerintahan VOC ke Mataram. Sejak saat itu VOC tetap mengirimkan ke Ibukota mataram terutama untuk menjaga jangan sampai kerajaan mataram bersekutu atau bersatu dengan kerajaan Banten untuk menyerang VOC yang berkedudukan di Batavia.
 VOC dibubarkan pada tahun 1796 dengan meninggalkan utang sebesar 134,7 juta gulden. Kemunduran atau kebangkrutan VOC disebabkan oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut :
a)       Terdapat kecurangan dalam pembukuan
b)      Skill pegawai yang rendah
c)        Korupsi
d)     Kemerosotan moril para penguasa maupun penduduk bumi putera yang sangat menderita sebagai akibat dari penerapan sistem monopoli dan pemaksaan dalam proses pengumpulan hasil-hasil petani.
e)        Perang Belanda melawan Inggris untuk merebutkan hegemoni perdagangan.
 
Denys Lombard. 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Ong Hok Ham. 2002. Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong. Jakarta: Buku Kompas
Purwanto Bambang. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris. Yogyakarta: Ombak.
M.C. Ricklefs. 1993. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar